Tuesday, August 4, 2015

One and Only.

This is what bestfriends are for.

"Anis, the one who's far from you, don't always get to see you, can't always be near you even he/she wants to, is the one who loves you so much. Probably the one who appreciates you the most, better than ones who get to see you everyday."

Thankyou for everything. Thankyou for always being there for me throughout all the ups and downs, the laughters and pains, the smiles and tears, everything. I had once lost a good friend and now you've just proven me I deserve better ones. Yes I do deserve better ones, like you. You're always there to listen to all my stories, laugh at my tahpape punya jokes, lend me your shoulders for me to cry on when everything seems like falling apart, eventhough we're so faaaar away from each other. You're there to always try to put a smile on my face when I don't even feel like smiling. You're there to help me up when others knock me down. You see something in me when others think I'm nothing.

Nanges.

You always correct me when I'm wrong, continuously give me supportive advices, remind me that there are people who care, who always silently pray the best for me.

I appreciate you and your presence. And please do always remember that. I love the way we complete each other as we know the fact that we're both imperfect. 

I can't bear losing a super amazing friend like you. Sungguh.

Wallahi my dear, I'm so blessed to have you. Thanks for showing up in my life. I thank Allah for giving me such a great opportunity to meet you and to know you. Out of millions of people in the world, I choose you. Janji I'll always love you. Yep, to the moon and back. Eh. No, to KLIA and back to Queen Alia Int Airport. Eheheh <3

Sunday, June 14, 2015

Heart's Talk.

How does it feel to be treated like you don't exist.
You started to feel like things aren't the way it used to be anymore.
They've changed.
The way they look at you-- has changed.
The way they used to care so much about you-- has changed.
And believe it or not,
Your spot in their heart, which used to be such a special spot-- is slowly disappearing.
You feel they started to push you away.
That time, you would probably ask yourself,
"Am I not a somebody to you anymore?"
"Or maybe, never been a somebody to you all this while?"
And you wonder,
They have stopped caring or they've never cared?

It hurts.
It hurts a lot--
In your eyes, they are your only sunshine.
But to them, you're nothing.
Without them, it's so hard for you.
But without you, they don't feel incomplete.
They laugh.
They smile.
They live happily.

You ask yourself, crying your heart out.
"Why do I have to face this?"
"Why do I have to feel this pain?"
Yes, it hurts.
It tears your heart apart.
It kills you inside out.
It's awful.
But despite of all the tears and pains,
You smile.
You pretend like everything's fine.
You're hiding behind your favourite sentence,
"I'm okay."

The fact is,
Nobody knows if you're so hurt.
Nobody could tell if you're in pain.
Nobody could notice if you feel like dying.
Nobody could imagine,
The girl who greets people with the sweetest smile in the morning, cries the most tears, cries her heart out when the lights are off.
Who cares?
Who would probably give a sh*t?
The one she hopes always be there for her-- isn't there.
The one she hopes never leave-- left her.
The one she cares a lot-- don't give a damn about her.
It's just sad, isn't it?

People always leave the one who needs them the most, just because, maybe, just maybe, they don't need him/her as much as he/she needs them.
Why is it always like that?

If only you could feel the pain I'm facing,
If only you could see me crying,
If only you knew how my heart hurts,
Do you think you would do this to me?
Do you think you could bear seeing how it kills me from the inside?

Thanks for not being there the moment I needed you the most.
Thanks for proving to me that you don't care when I care for you more than I care for myself.
Thanks for showing me how you really don't need me while I feel like dying of wanting you to always be there for me.
Thanks for the pain.

Sincerely.
The heart of a girl who thinks you mean the world to her.

At last.
The hand is writing what the heart couldn't handle anymore.
Satisfied. Phew.

Thursday, May 28, 2015

Fasal Thani : Fatrah Terobek?

Baru aku tahu.
Fatrah fasal thani seolah-olah boleh ditukar namanya kepada fatrah terobek.
Segala benda terobek.
Masa fasal awwal haritu ada jugak terobek sikit-sikit tapi tak lah sedahsyat fasal ni punya.
Sebab bahang-bahang hampir setahun di tempat orang makin membara mungkin?
Kaitannyaaaaa lah....

Paling meletup dia punya terobek,
Tak lain tak bukan,
Daurah.
Taktahu nak describe macam mana mantopnya letupan dia punya meletup tu.
Pantang sorang termention apa-apa unsur yang ada walau sekecil zarah punya kaitan dengan daurah.
Beratur yang lain-lain join menghangatkan sesi terobek yang sudah sememangnya sentiasa hangat.
Aku pun termasuk dalam golongan yang join tu.
Tak boleh... baca post daurahmates yang ada kaitan, tak mampu untuk baca dan like je semata.
Mesti ada benda nak cakap walau sepatah.
Walau hanya tulis "hashtag ibn malik".
Ha ha ha.

Rasanya sebab ada musabaqoh tu yang buat jadi banyak benda nak diterobek.
Cuba kalau daurah sebulan tu kita kena duk kelas mengadap buku,
mengadap papan tulis,
tertidur dalam kelas sebab sejuk dia memang layannn,
pastu habis kelas balik bilik buat homework,
pastu makan,
solat,
tidur,
layan perasaan tepi sungai. Eh.
Amende je nak diterobek kalau tu je daily routine kita?

Tapi sebab ada segala macam musabaqoh tu yang jadi best bila sampai masa terobek.
Kadang-kadang tu sampai teringat je pun boleh buat tergelak sorang.
Teringat tasfiq daurah je pun boleh sengih-sengih.
Belum lagi teringat momen praktis musamarah dalam kelas.
Sebab sorang gelak, orang lain yang asalnya takde rasa nak gelak pun tak pasal-pasal ikut gelak sekali.
Ok itu ibn malik lah kan. Heh.

Munazoroh yang awalnya takde orang rela masuk, well kecuali sorang budak hebat yang semua musabaqoh kitorang naikkan nama dia dulu awal-awal lah kan.
Haha. Siapa entah.
Tapi menang kot munazoroh.
Hebat la pendebat hafiz hafizah kitorang. Heh.
Tajuk kahwin awal afdhal untuk final stage.
Dan pendebat kitorang kena bangkang statement tu.
Kau fikir senang? Hahahahahaha.
Tiap point kena attack dengan pihak lawan yang tak kurang haibatnya.
Lepas daurah rois kata "kalau ada orang ibn malik yang kahwin awal ni sah-sah kena bahan teruk dengan grup lain". Wahaha.
Takpe ibn malik kalau ada orang kita yang kahwin awal nanti kita carikan alasan munasabah untuk balas bahan diorang eh.
Lol.
Takdelah, ibn malik mantap semua nak focus study dulu katanya.
Walaupun kadang-kadang tu status wassap memasing pasal harapan lah, penantian lah, kumbang seekor, bunga sekuntum lah. Ehehehehheeh. Aku pun termasuk lah sebab aku sebahagian drpd ibn malik. Haha.
Eh ni terobek daurah ke terobek ibn malik.....

Tamsil satu lagi takleh lupa.
Ada yang jadi ustazah syadidah lah.
Anak murid tak hormat ustaz.
3 beradik pekak bisu buta.
Anak yang diseksa sebab derhaka.
Oh arabiyyati. Qif sil qif sil ok itu mantap sangat haha.

Nasyid jangan cakap.
Kejap nak habiskan gelak dulu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
K.
Aku tak ingat dah lirik dia.
Tapi aku ingat besar mana semangat kita perform malam tu.
Seriously......
Walaupun mungkin dipandang serong dan annoying oleh grup lain.
Hahaha.
Well musabaqoh is all about doing the best and enjoying ourselves and giving all out.
So tu kira all out lah tu hahaha.
Mentaipppp sangat bak kata seseorang tu.

Anasyid daurah takkan mungkin dilupakannnn.
Tiap kali ustaz kata siapa yang nak kedepan nyanyi nanti ustaz tambah najm.
Keje kitorang petik nama syabab grup sesedap rasa.
Dan diorang akur sebab nak najm jugak. Heheh.
Paling-paling rois dengan orang suara sedap tu. Nasiblah.

Rindu kan.
Tu belum cerita pasal ustaz-ustaznya lagi.
Grup lain mungkin ada ab (baca: ayah) atau akh (baca: abang).
Kitorang ada jadd (baca: atuk).
Eheheheh.
Time belajar ada je mintak rehat kejap pastu suruh ustaz mu'tasim pasang anasyid daurah.
Hamboi.. tadi ngantuk terus segar bakhang dapat nyanyi.
Bila kena buat ayat guna mufradat baru tiap pagi tu,
Tak sah tak minta najm kabeeeeeer drpd ustaz.
Sorang mintak, semua nak.
Ustaz kesian tengok kitorang macam najm tu bererti sangat jadinya ustaz bagilah. Haha.

Ya Allah.
Rindunya.
Tak sangka nak setahun dah tinggalkan daurah.
Rasa macam baruuu je.
Segar betul momen-momen tu semua dalam ingatan.
Ildas dengan btn kurang pulak terobeknya.
Mungkin sebab tempohnya yang sekejap berbanding daurah yang sampai sebulan.
Sampaikan dekat ildas dengan btn pun duk terbawak-bawak feeling daurahnya.
Semangat grup daurah sikit tak padam lagi masa tu. Heheheh.

Tapi ildas yang boleh diterobek ialah...............
.
.
.
.
.
Part bahagianya dapat tidur dalam dewan kot.
Nak minum air, makan gula-gula.
Puasa pulak.
Memang pasrah jelah masuk tiap slot dengan azam taknak tidur tapi tersyahid juga. Allah. Dahsyat.

Btn?
Juhud tetiap hari kena mendaki tangga yang teramatlah banyak untuk pergi solat, pergi kelas, pergi makan.
Pergi mana-mana pun ada tangga.
Kena meniarap atas jalan sebab lewat berkumpul.
Siap ada yang tertidur masa meniarap sebab penat sangat.
Belajar kawad yang basic.
Hancur.
Pertandingan nyanyi lagu patriotik.
Fuhhh.
Menara manusia.
Ok yang tu sumpah best. Hahaha.
Sakit hati fasi dengan kita.
Terlalu utuh.
Utuh sampai semua orang kita kata musuh dalam selimut.
Tak pasal-pasal.

Haih.
Pendek kata dalam fatrah persediaan nak fly tu diserikan dengan momen-momen macam tulah yang buat rasa sedih nak pergi negara orang tu macam boleh dikawal lagi lah.
Cewah.
Ni boleh jadi sampai khirij pun tak habis terobek lagj.
Moga tersenyum lah tu teringat kenangan dan pengalaman yang sama-sama dah kutip sebelum bertebaran di tempat orang ni.

Keep calm and Terobek everything.
Eheh.

Penconteng semangat terobek lepas habis ekzem.
Mohon maaf.
Layankan~~~ bukan selalu. Hihi.

Penconteng mengundur diri.

Thursday, April 30, 2015

Antara Bahagia yang Terlihat dan Duka yang Tersirat.

Ada orang dapat lihat kita tersenyum.
Lalu turut mengukir senyuman tanda sama bergembira.
Dia tumpang girang dengan ria yang terpancar pada mata.
Dia ikut suka dengan aura bahagia yang terekspresi pada senyum tawa.
Kadangkala bahkan terlintas di benak fikirannya,
"Bahagianya dia.."
"Indahnya hidupnya.."
"Beruntung sungguh menjadi dia.."
Monolog sendiri dalam keirian, pada masa yang sama, kekaguman.

Ada pula,
Orang yang juga dapat lihat kita tersenyum.
Namun mampu mengintai apa yang terselindung di sebalik lirik senyum yang terzahir.
Seribu satu cerita.
Seribu satu rasa.
Terhijab dek segaris senyuman manis.
Tersembunyi, jauh pada dasarnya.
Dia berupaya memahami kedukaan yang tidak terungkap,
Di saat yang lain cuma mampu diperdaya dengan senyum yang terlihat.
Dia mendengar ceritanya.
Cerita gembira yang direka belaka,
Demi mengubat sendiri hati yang sarat terluka.
Kerana dia tahu, tak ada yang mampu faham sama.
Sedangkan dalam diam, ada insan yang mengerti.
Ada insan yang merenung tajam ke dalam matanya di saat dia berusaha menyusun kisah rekaannya,
Merenung tepat,
Lalu berkata lembut,
"Sejauh mana lagi mahu kau teruskan?"
"Yakinkah engkau sebesar itu gembira yang mampu menyembunyi duka yang engkau lalui?"
Satu persatu soalan terungkap.
Menjemput mutiara jernih membasahi pipi seorang insan yang selama ini menganggap,
Tidak seorang dalam dunia ini mengerti.
Tidak seorang dalam dunia ini cuba fahami.

Menggelikan hati,
Bilamana kita sedar,
Kita acapkali cenderung mengharap insan yang tak pernah cuba untuk faham, faham akan cerita yang tidakpun kita luah.
Dan pada masa yang sama,
Terlepas pandang insan yang selama ini sentiasa berusaha mengerti duka yang tersembunyi di sebalik sebuah senyuman.

Hakikatnya.
Tak semua mampu fahami.
Tak semua mampu sekurangnya cuba untuk fahami.

Walaupun begitu,
Tak semua insan juga mampu kita perdaya.
Dengan cerita indah yang diada-ada semata.
Demi terlihat kuat dan tabahnya jiwa.
Walhal ternyata teramat perit menanggung luka.
Kerana sungguh,
Sungguh,
Sungguh,
Sentiasa ada yang ambil peduli.
Sentiasa ada insan yang dapat lihat duka yang diselindungi, lebih jelas daripada lihat gembira yang dizahiri.

Apresiasi tertinggi didekasi buat insan yang sentiasa cuba fahami,
Selalu usaha mengerti,
Setiap masa setia dampingi.
Mak abah terutama sekali.
Sahabat sekalipun tidak dilupai.

Post penuh puitis. Haih.
Penconteng mengundur diri.

Sunday, April 26, 2015

Angin Taufan Kiriman Malaysia.

Dia kalau angin topan rindu dah mai,
Sumpah tak boleh nak kata apa.
Masalahnya bukan rindu family je.
Sampai tahap semua benda pasal Mesia dah rindu.
Malaysia btw. *takut orang kata lupa daghatan*

Rindu rumah tu haruslah.
Bantal. Langsir. Karpet. Meja makan.
Katil empuk.
Errr macam la sini takde semua benda ni.
Ada memang ada.
Tapi mana mungkin sama......
Eheh.

Rindu naik kereta tengok luar tingkap,
Ada Mydin,
Ada Tesco, Giant, Econsave.
Aeon Jusco.
Paling penting ada 99 Speedmart.
Orang Selangor je kot tahu? Hihi.

Rindu bangun pepagi dikejut bunyi ayam berkokok. Lol.
Macam tipuuuu jee niiiii.
Alarm phone tepi telinga pun haram nak dengar. Erk.

Rindu sarapan roti canai kuah kari, taknak dal.
Nasi lemak telur goreng sambal sotong, sambal lebih.
Kuetiau goreng basah.
Mi goreng mamak.
Peh. Lagi nak banding kepsi mekdi dengan semua ni?
Jangan harap.

Rindu nak balik kampung dan wajib singgah restoran ikan bakaqqqq.
Sotong goreng tepung dekat Serkam paling mantop.
Makan tu rasa nak mengalir ayaqq mata sebab sedap sangat. Eheheheh.

Pendek kata, panjang tak kata apa.
Hahahahahaha pinjam kehambaran pickup line Johan.
Errrr.
Pendek kata rindu semua benda.
Bak kata ada orang tu, kau dah duk tempat orang ni, nanti kau balik Malaysia rasa macam nak cium lantai airport bila sampai KLIA.
Rasa nak nangis dengar semorang cakap melayu.
Ye ye je kan? Lol.

Jauh lagi perjalanan.
Sebenarnya post hari ni bukan pasal rindu.
Tapi pasal ternampak ada orang haplod macam-macam makanan Malaysia.
Lapar lah kiranya.
Macam-macam dah teringin.
Ni kalau balik boleh list kot nak makan apa. Hihi.

Maaf buat korang tension baca.
Tension ke?
Ke ikut lapar? Kehkeh.
Saja up post camni balas dendam meraikan habis imtihan thani.
Macam tak ada kaitan kan.

Dah lama tak tulis ni.
Jadinya nak dapatkan rentak balik tu memerlukan satu post yang ala-ala luahan hati dan dedikasi ni dulu.
Kawal sikit bunyi perut tu. Heh.

Penconteng mengundur diri.
Yay.

Thursday, March 26, 2015

Besarnya Kasih Insan Bergelar Ibu Bapa.

Terbaca satu post daripada seorang ayah buat anak beliau di laman muka buku.
Post penuh chenta,
Post penuh kerinduan,
Post sarat pengharapan.

Sungguh aku terkesan.
Biarpun sebenarnya ianya tiada kaitan sikitpun dengan aku,
Namun efek yang aku peroleh daripada pembacaan post tersebut ternyata amat dalam.

Aku yakin aku tidak keseorangan.
Pastinya ada insan lain lagi yang turut merasakan betapa ianya menyentuh perasaan.
Biarpun mungkin ada juga yang tak terasa apa.
Barangkali mereka fikir itu perkara biasa antara ibu bapa dengan anak mereka bilamana sudah hidup berjauhan.

Aku faham.

Hakikatnya aku adalah sebahagian daripada golongan insan yang tak mampu berkompromi sesampainya pada topik keluarga, apatah lagi ibu bapa.
Mudah terkesan.
Mudah tersentuh.
Sekali lagi aku yakin aku tak keseorangan.

Tatkala membaca post tersebut,
Aku tersentak lalu kemudian serta-merta tersentap.
MashaAllah.
Begini punya kasih seorang bapa kepada anaknya yang beliau tahu hidup jauh daripadanya.
Cepat saja rindu, biarpun mereka susah meluahkan.
Cepat saja risau, walaupun mereka sering memendam pada diri.
Alasannya mereka tak mahu buah hati mereka yang hidup jauh di mata risau tentang mereka.
Kita di sini?
Cukupkah kita ingat pada mereka?
Adakah kita punya masa untuk merenung segala jasa mereka lalu berterima kasih pada mereka?
Atau mungkin kita makin bahagia hidup berjauhan kerana,
Di sini tiada kongkongan,
Tiada peraturan yang mungkin ada ketika di rumah,
Tiada mulut yang mudah saja bising dengan bebelan.
Begitukah kita?

Sedangkan kongkongan, peraturan, dan bebelan itulah antara tanda kasih dan sayang yang barangkali termampu mereka tunjukkan.
Kita remaja suka salahtafsir dan cepat melenting.
Lumrah.
Nastaghfirullah.

Saat pembacaan post tersebut,
Dua insan kesayangan singgah di benak fikiran yang pada mulanya kosong sepi.
Saat itulah fikiran menerawang memikirkan keadaan mereka,
Sihatkah mereka,
Gembirakah mereka,
Rindukah mereka.
Mata terasa panas secara tiba-tiba.
Allah.

Kita kadangkala hanya fikir pada kesusahan, jerih payah kita di rantau orang,
Sakit rindu kita pada keluarga yang adakalanya mendorong kita untuk hilang semangat daripada melakukan apa-apa.
Pernahkah kita terfikir tentang ibu bapa kita?
Apa kita fikir, cuma kita yang rindu pada mereka, sedangkan mereka tiada rasa apa?
Sungguh mudah kita lompat pada konklusi yang tak jelas hakikatnya.

Aku teringat pada dialog antara mak dengan rakan sekerjanya yang memang amat rapat dengan keluarga, sebelum aku berangkat ke bumi ini.
"Tak rasa apa ke anak nak pergi jauh ni?"
Mak senyap sambil hanya mampu melempar senyuman yang pada masa itu aku tahu bakal aku rindui.
Lalu mak menyusun kata.
"Takkanlah tak rasa apa. Kita ni emak."
Ringkas sekali jawapannya tapi makna yang ditinggalkan terlalu dalam sehinggakan sampai sekarang pun masih terngiang-ngiang ayat ini di telinga.
Lalu mak menambah,
"Tapi dia pergi jauh sebab nak belajar, nak cari ilmu, bukan apa."
Mata berkaca.

Sungguh bagi aku enam bulan di sini saja sudah cukup menjadi satu tempoh membanggakan buat aku,
yang selama hampir 19 tahun hidup tak pernah sekalipun berjauhan dengan keluarga,
Tak pernah sekalipun hidup di asrama.
Paling lama rekod dicatatkan ialah ketika daurah sebulan,
Sebelum berangkat ke Jordan.

Masih aku ingat waktu keluarga melawat aku di sana,
ketika itu minggu ketiga daurah.
Pertemuan yang singkat disambut dengan pelukan dan air mata rindu.
Itu baru tiga minggu.
Baru-baru ini ketika mak menjejak kaki ke bumi Urdun,
aku menjemputnya di lapangan terbang.
Niat hati tak mahu menangis.
Waktu aku sambut salam mak, kemudian aku dipeluknya,
Lantas aku melihat matanya jernih berkaca,
Sungguh tak mampu aku tahan air mata.

Barangkali ada yang fikir,
"Memang rapat dengan mak je ke?"
Mungkin kerana sepanjang cerita ini banyak aku selitkan tentang mak.
Hakikatnya abah ialah seorang bapa.
Seorang bapa yang lumrah dan fitrahnya jarang menzahirkan kerisauan dan kerinduannya, apatah lagi pada anak gadisnya.
Namun aku tak mampu menyangkal,
Aku lebih mudah tersentuh bilamana berbicara dengan abah melalui telefon.
Saat itulah terzahir sikap ambil berat seorang bapa.
Yang sememangnya sungguh dalam kesannya.

Terima kasih kepada post berkenaan yang memanggil aku dan juga kalian untuk menambah rasa apresiasi buat ibu bapa kita di Malaysia sana.
Post penuh air mata.
Nyaris banjir Al albayt kita.

Tujuan aku menulis bukanlah untuk sesiapa.
Melainkan diri aku sendiri.
Yang barangkali selalu terleka dan terlupa,
Bahawa ada hati dan jiwa yang sebenarnya sedang sarat merindui.

Jangan nangis.
Jom balik lepas soifi.
Kita penuhkan kapal terbang dengan ahli Prisma.
Keh.

Penconteng mengundur diri.
Eh.
Buah hati mak abah yang paling comel mengundur diri.
Hihi. (Majrur wa 'alamah jarrihi huruf ai dzohiroh 'ala akhirih)

Tuesday, March 24, 2015

Menghargai dan Dihargai.

Percaya atau tidak,
Post aku tentang beg kesayangan di laman muka buku telah sedikit sebanyak mendesak diri sendiri supaya bermuhasabah.
Supaya merenung diri.

Semua orang tidak dapat tidak, pasti ada rasa ingin dihargai.
Biar sekeras mana hati kita,
Biar sesado mana jiwa kita,
Biar segengster mana gaya kita,
Biar sekasar mana cara kita.
Pasti ada walau sekelumit kecil perasaan dalam diri, ingin rasa dihargai.

Namun, layakkah kita ingin merasa dihargai,
Bilamana diri sendiri sama sekali tak reti menghargai?
Macam mana nak orang hargai kita, sedangkan kita sikitpun tak hargai mereka?
Soalan mudah, jawapan pun mudah.
Tapi nak laksana tu yang tak semudah bertanya dan menjawab.

Merenung pada beg yang nazak,
Menggerak hati aku untuk berfikir sejenak,
"Ini cuma sebuah beg, bukan apa-apa."
Tapi bila dah rosak, barulah tersedar sekurang-kurangnya ada juga manfaat yang ia beri pada diri.
Aku yang selama ini barangkali tak hargai manfaatnya, akhirnya terpanggil untuk ada rasa menghargai.

Itu baru beg.
Beg yang tak punya perasaan.
Beg yang tak ada mulut untuk bersuara.
Beg yang tak miliki sepasang kaki untuk melangkah.
Macam mana kalau manusia?
Agak-agak,
kalau kita tak sikitpun hargai mereka,
mereka mampu terima ke?
Sedangkan mereka ada perasaan untuk berkeinginan dihargai.
Sedangkan mereka ada mulut untuk menyuarakan ketidakpuasan hati mereka.
Sedangkan mereka ada sepasang kaki untuk bila-bila masa melangkah pergi.

Hakikatnya, kita manusia.
Manusia yang tak sempurna, lagi penuh khilaf.
Sering terlupa,
sering terleka.
Sejauh mana kita cuba, kita tetap tak mampu memuaskan hati semua.

Tapi, janganlah pula hakikat ini kita jadikan sebagai alasan untuk tidak mencuba dan berusaha.
Cubalah untuk mencuba.
Berusahalah untuk berusaha.
Biarlah kita sekurang-kurangnya mencurah usaha untuk menghargai,
demi menghadiahkan rasa dihargai kepada insan-insan sekeliling yang kita kasihi.

Sering terdengar sebaris kuot mudah, tapi mendalam maknanya.
"What you give, you get back."
Bukan karma yang ingin aku ketengahkan.
Sebaliknya kitaran hidup itu sendiri.
Sungguh, apa yang kita beri, kita akan dapat habuannya, samada ganjaran atau sebaliknya.
Ia cuma soal cepat atau lambat.
Kita beri baik, kita dapat baik.
Kita beri respek, kita dapat respek.
Kita beri penghargaan, kita dapat penghargaan.

Bukanlah hidup untuk mengejar penghargaan yang cuba aku gariskan di sini.
Jauh sekali.
Namun mahu atau tidak,
Kita memang dianugerahkan rasa ingin dihargai dalam diri.
Barangkali dengan adanya rasa ingin dihargai itulah kita mampu belajar untuk menghargai.
Siapa tahu.

Konklusinya,
Keep calm & appreciate others.
That's the main point.
Learn to appreciate before wanting to be appreciated.
Let's start with ourselves.

Moga penghargaan kita membahagiakan mereka.
Moga penghargaan itu menambah mekar pada bunga-bunga ukhuwwah yang dipelihara bersama-sama. Aiseymen.

Penconteng mengundur diri.

P/s: Aku hargai kalian dengan setinggi-tinggi penghargaan. Sanggup meluangkan masa melayari tulisan ini bermula dari huruf pertama sehingga noktah terakhir, biarpun mungkin tiada sikitpun manfaat yang dapat diambil berbanding banyaknya jumlah perkataan yang aku guna. Aku hargai kalian, maka mohonlah hargai usaha dhoif ini dalam menyebar sedikit mana pun manfaat yang aku mampu beri.

*Post panjang lebar, kenapa?
Lepas exam kan, tak faham lagi ke. Keh.